Bayangkan hidup sehari-hari tanpa air bersih yang mengalir dari kran. Mandi susah, masak jadi mimpi, apalagi minum yang layak. Itulah yang dialami warga di beberapa desa Aceh setelah banjir bandang dan longsor melanda akhir tahun lalu. Di tengah kesulitan itu, sekelompok mahasiswa dari Universitas Teuku Umar (UTU) turun tangan. Mereka pasang teknologi air bersih di Timang Gajah, khususnya Desa Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Aksi ini bukan sekadar bantuan sementara, tapi solusi jangka panjang yang bikin kita bangga sama generasi muda.
Krisis air bersih pasca bencana ini nyata banget. Banjir besar merusak sumber air, sumur tercemar, dan pipa-pipa infrastruktur hancur. Warga harus antre atau jalan jauh demi segalon air. Nah, mahasiswa UTU lewat program Mahasiswa Berdampak 2026 langsung bergerak. Mereka terapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang sederhana tapi efektif. Hasilnya? Warga mulai bisa mandi dan masak dengan tenang lagi.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Timang Gajah?
Bener Meriah, Aceh, termasuk daerah rawan bencana hidrometeorologi. Akhir 2025 sampai awal 2026, banjir bandang dan longsor hebat menghantam beberapa kecamatan, termasuk Timang Gajah. Desa Pantan Kemuning jadi salah satu yang paling parah. Sumber air bersih rusak total, lahan pertanian tergerus, dan warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Menurut laporan lapangan, akses air layak konsumsi sangat terbatas. Banyak sumur kering atau tercemar lumpur. Ini bukan cuma soal haus, tapi risiko kesehatan seperti diare dan penyakit kulit meningkat drastis. Ekonomi rumah tangga juga kena: petani gak bisa tanam, ibu-ibu susah masak, anak-anak gak nyaman belajar.
Di sinilah pentingnya respons cepat. Banyak pihak bantu, seperti TNI distribusi air tangki atau organisasi kemanusiaan. Tapi mahasiswa UTU pilih pendekatan berbeda: kasih solusi yang bisa warga kelola sendiri.
Siapa Saja Mahasiswa UTU yang Turun ke Lapangan?
Tim ini keren banget karena lintas jurusan. Ada dari Himpunan Mahasiswa Teknik Industri, Ekonomi Pembangunan, dan Manajemen. Mereka gak sendirian, dibimbing dosen berpengalaman seperti Ir. Risnadi Irawan, S.TP., M.T. sebagai ketua, plus Rollis Juliansyah dan Teuku Farizal.
Program ini bagian dari Pemberdayaan Masyarakat Pasca-bencana Sumatera 2026, didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Mereka lakukan survei dulu, ngobrol sama warga, baru pasang teknologi. Pendekatannya partisipatif—artinya warga ikut dari awal supaya nanti bisa rawat sendiri.
Bayangin, anak-anak kuliah yang biasanya di kampus, kini blusukan ke desa pegunungan, gotong royong pasang alat. Ini bukti bahwa mahasiswa gak cuma teori, tapi bisa bikin dampak nyata.
Teknologi Air Bersih seperti Apa yang Dipasang?
Inti dari aksi mahasiswa UTU adalah Teknologi Tepat Guna (TTG). Ini teknologi sederhana, murah, dan sesuai kondisi lokal. Gak perlu listrik mahal atau perawatan rumit. Disesuaikan dengan geografis Timang Gajah yang pegunungan dan sering hujan.
Beberapa contoh TTG untuk air bersih yang biasa dipakai di situasi seperti ini:
- Filter air sederhana: Pakai drum atau tangki berlapis pasir, arang, dan ijuk untuk saring air sungai atau sumur yang keruh.
- Penampung air hujan: Atap rumah dimodif dengan talang ke toren, lalu difilter sebelum dipakai.
- Perbaikan drainase: Biar air gak tergenang dan mencemari sumber air.
- Sistem gravitasi: Pipa dari mata air atas ke desa bawah, tanpa pompa listrik.
Di program ini, mereka juga fokus pemulihan lahan pertanian. Misalnya, tambah pupuk organik atau tanam pohon penahan longsor seperti kaliandra—yang ternyata juga dilakukan tim UTU lain di Bener Meriah.
Keunggulan TTG ini:
- Murah dan bahan lokal
- Mudah dirawat warga sendiri
- Ramah lingkungan
- Berkelanjutan, gak cuma bantuan sekali pakai
Hasilnya, warga Pantan Kemuning mulai punya akses air bersih yang lebih baik. Gak perlu antre jauh lagi.
Dampak Nyata untuk Warga dan Lingkungan
Aksi ini berdampak besar. Pertama, kesehatan warga membaik karena air bersih kurangi risiko penyakit. Kedua, ekonomi pulih karena lahan pertanian bisa ditanami lagi—pertanian kan sumber utama penghidupan di sana.
Yang paling keren, program ini dorong kemandirian. Warga dilatih rawat teknologi sendiri, jadi pasca mahasiswa pulang, sistem tetap jalan. Ini sejalan dengan SDGs: air bersih (goal 6), ketahanan pangan (goal 2), dan penanganan iklim (goal 13).
Cerita seperti ini bikin optimis. Di tengah bencana yang sering melanda Indonesia, ada anak muda yang gak cuma prihatin di media sosial, tapi langsung action.
Mengapa Aksi seperti Ini Penting untuk Kita Semua?
Bencana hidrometeorologi semakin sering karena perubahan iklim. Banjir, longsor, kekeringan—semua bikin krisis air bersih. Di Indonesia, jutaan orang masih kesulitan akses air layak. Aksi mahasiswa UTU di Timang Gajah jadi contoh bahwa solusi lokal bisa efektif.
Kita bisa ikut berkontribusi, lho. Mulai dari hemat air di rumah, dukung program donasi, atau kalau mahasiswa, ikutan pengabdian masyarakat. Siapa tahu, ide sederhana kita bisa selamatkan banyak orang.
Kesimpulan: Harapan dari Generasi Muda
Mahasiswa UTU pasang teknologi air bersih di Timang Gajah membuktikan bahwa respons pasca bencana bisa cerdas dan berkelanjutan. Dari krisis air yang parah, kini warga Pantan Kemuning punya harapan baru. Ini bukan akhir, tapi awal dari pemulihan yang mandiri.
Salut buat tim UTU dan semua yang terlibat. Semoga cerita ini menginspirasi lebih banyak aksi serupa di daerah lain. Kalau kamu punya pengalaman atau ide soal teknologi sederhana untuk air bersih, share di komentar ya!




