Bayangkan kalau buka usaha di Indonesia jadi semudah buka aplikasi di ponsel. Perizinan cepat, regulasi nggak ribet, investasi mengalir deras. Kedengarannya mimpi, ya? Tapi ternyata, pemerintah lagi serius banget ngegas perbaikan iklim bisnis justru untuk mewujudkan itu semua. Di awal 2026 ini, komitmen mereka makin kencang untuk bikin ekonomi kita melesat lebih cepat.
Kenapa sih perbaikan iklim bisnis jadi prioritas utama? Sederhana: kalau dunia usaha nyaman, investasi masuk, lapangan kerja bertambah, dan akhirnya roda ekonomi berputar lebih kencang. Pemerintah nggak mau ekonomi kita jalan di tempat. Makanya, mereka percepat berbagai langkah strategis. Hasilnya? Target pertumbuhan ekonomi 2026 bisa tembus 5,6% bahkan lebih tinggi di kuartal awal. Menarik, kan? Yuk, kita bahas lebih dalam apa saja yang lagi dilakukan dan kenapa ini penting buat kita semua.
Apa Itu Iklim Bisnis dan Mengapa Harus Diperbaiki Sekarang?
Iklim bisnis itu seperti “cuaca” untuk dunia usaha. Kalau cerah, perusahaan berani ekspansi, investor antusias, dan ekonomi tumbuh. Tapi kalau mendung penuh hambatan regulasi, birokrasi berbelit, atau aturan yang nggak sinkron, ya banyak yang ragu bergerak.
Di Indonesia, kita sudah punya fondasi bagus dari reformasi sebelumnya, seperti UU Cipta Kerja. Tapi masih ada bottleneck yang bikin investor mikir dua kali. Misalnya, perizinan yang lambat atau regulasi yang tumpang tindih antar kementerian. Nah, di 2026 ini, pemerintah sadar banget kalau nggak dipercepat perbaikannya, target pertumbuhan tinggi bakal sulit tercapai.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang, banyak regulasi sudah oke, tapi perlu sinkronisasi antara data, aturan, dan fakta di lapangan. Ini kunci utama perbaikan iklim bisnis saat ini. Kalau berhasil, investasi domestik maupun asing bakal banjir, rupiah menguat, dan kita semua merasakan dampaknya lewat lapangan kerja baru.
Langkah Konkret Pemerintah dalam Perbaikan Iklim Bisnis
Pemerintah nggak cuma omong doang. Mereka sudah bentuk tim khusus dan jalankan program nyata. Ini beberapa langkah utama yang lagi digeber:
- Pembentukan Task Force Debottlenecking Ini jadi senjata utama. Satgas ini dibentuk bareng Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk “membersihkan” semua hambatan birokrasi. Setiap minggu ada meeting, dan targetnya hilangkan hampir semua bottleneck di dunia bisnis sebelum akhir tahun. Bayangin, dari impor bahan baku sampai perizinan investasi, semuanya diurai cepat.
- Revisi Regulasi dan Sinkronisasi Aturan Banyak aturan lama yang menghambat direvisi. Pemerintah cek internal dulu di Kemenkeu dan kementerian lain, lalu sinkronkan semuanya. Insentif untuk impor bahan baku juga dipertahankan agar industri tetap kompetitif.
- Fokus Penguatan Industri dan Inovasi Sektor elektronik jadi prioritas karena kontribusinya sudah 1,6% ke PDB. Pemerintah dorong inovasi, perluas keterlibatan di global value chain (GVC), dan tingkatkan standar ketenagakerjaan. Tujuannya? Produktivitas nasional naik, tenaga kerja lebih kompeten.
- Percepatan Belanja Negara dan Stimulus Belanja Rp 809 triliun di awal tahun, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) Rp 62 triliun, THR ASN, dan stimulus lain. Ini jaga daya beli masyarakat sekaligus dorong konsumsi selama Ramadan dan Lebaran.
Langkah-langkah ini saling terkait. Kalau debottlenecking berhasil, investasi realisasi bisa mendekati 6%, dan PMI manufaktur yang sudah naik ke 52,6 bakal terus ekspansif.
Target Ekonomi 2026: Bisa Tembus 6% di Kuartal Pertama?
Purbaya optimis banget. Untuk kuartal I 2026, pertumbuhan ditargetkan 5,5-6%, naik dari proyeksi sebelumnya. Kuartal II juga sama, didorong MBG, investasi, dan program desa. Secara keseluruhan tahun, target resmi 5,4%, tapi potensi lebih tinggi jadi 5,6%.
Kenapa bisa? Karena sinergi fiskal ekspansif, moneter stabil, dan perbaikan iklim bisnis. Lik+inflasi terkendali di 2,5±1%, likuiditas longgar, daya beli membaik. Mantan Menkeu Chatib Basri juga dukung: kemudahan perizinan dan deregulasi bakal ciptakan lapangan kerja formal dan dorong permintaan.
Kalau target ini tercapai, efek domino-nya luar biasa. Industri manufaktur bangkit, ekspor naik, dan rupiah lebih kuat. Buat pengusaha kecil sampai besar, ini sinyal hijau untuk ekspansi.
Tantangan yang Masih Mengintai
Meski optimis, nggak semuanya mulus. Masih ada hambatan struktural, seperti skor B-Ready World Bank yang perlu ditingkatkan. Indonesia sudah di peringkat bagus ASEAN, tapi globally masih ada ruang perbaikan di regulatory framework dan operational efficiency.
Global juga penuh ketidakpastian: geopolitik, perubahan iklim, atau fluktuasi harga komoditas. Makanya, pemerintah harus konsisten jalankan task force dan revisi regulasi tanpa kendur.
Apa Artinya Buat Kita Sehari-hari?
Kamu yang punya usaha kecil, ini kesempatan buat scale up. Perizinan lebih mudah, akses modal lebih gampang. Buat karyawan, lapangan kerja baru bermunculan, gaji potensial naik. Buat masyarakat biasa, daya beli terjaga, harga barang stabil, dan ekonomi lebih merata.
Bayangin kalau iklim bisnis benar-benar cerah: UMKM berkembang, anak muda lebih mudah berwirausaha, dan Indonesia jadi magnet investasi Asia. Ini bukan cuma angka di berita, tapi dampak nyata ke hidup kita.
Kesimpulan: Saatnya Optimis dengan Perbaikan Iklim Bisnis
Pemerintah lagi all out percepat perbaikan iklim bisnis lewat task force, revisi regulasi, dan penguatan industri. Target pertumbuhan 2026 yang ambisius bukan mimpi belaka, asal semua langkah dijalankan konsisten. Ini momentum buat Indonesia melesat, ciptakan lapangan kerja, dan ekonomi lebih kuat.
Kamu gimana? Sudah siap manfaatkan peluang ini? Pantau terus perkembangannya, siapa tahu bisnis impianmu bisa take off tahun ini!