Bayangkan lagi asyik foto anak pakai flash, eh tiba-tiba pupil matanya kelihatan putih glowing. Bukan efek filter, tapi tanda bahaya. Itu bisa jadi retinoblastoma, kanker mata yang paling sering menyerang anak kecil di Indonesia.
Jangan panik dulu. Kabar baiknya, retinoblastoma di Indonesia sekarang semakin bisa disembuhkan, asal ketahuan cepat. Tapi ya, perjalanannya memang masih panjang banget. Banyak orang tua yang baru sadar saat sudah stadium lanjut, dan itu bikin treatment jadi lebih berat.
Di artikel ini, kita bahas tuntas soal retinoblastoma di Indonesia – mulai dari gejala, kenapa sering telat ketahuan, pengobatan apa saja yang ada, sampai harapan ke depannya. Semoga membantu para orang tua yang lagi cari info atau sekadar ingin lebih aware.
Apa Itu Retinoblastoma Sebenarnya?
Retinoblastoma adalah kanker yang tumbuh di retina, bagian mata yang bertugas nangkap cahaya. Kanker ini khusus menyerang anak-anak, biasanya di bawah usia 5 tahun. Bahkan, 95% kasus muncul sebelum anak berusia 5 tahun.
Kenapa bisa terjadi? Ini karena mutasi gen RB1 yang bikin sel retina tumbuh liar tanpa kendali. Sekitar 25% kasus diturunkan dari orang tua, sisanya muncul tiba-tiba. Di Indonesia, retinoblastoma jadi kanker anak nomor dua terbanyak setelah leukemia, dengan ratusan kasus baru setiap tahun.
Yang bikin retinoblastoma spesial, ini satu-satunya kanker anak yang bisa dideteksi dini hanya dengan melihat mata. Kalau ketahuan cepat, peluang sembuh bisa di atas 90%. Tapi kalau sudah menyebar, ya risikonya jauh lebih besar.
Gejala Retinoblastoma yang Paling Kelihatan
Gejala klasiknya adalah leukokoria atau pupil mata berwarna putih, sering kelihatan saat difoto pakai flash. Orang bilang “mata kucing”. Ini tanda utama yang bikin orang tua langsung curiga.
Selain itu, perhatikan juga:
- Mata juling tiba-tiba (strabismus)
- Mata merah atau bengkak tanpa sebab
- Penglihatan anak kayaknya terganggu, sering menggosok mata
- Bola mata membesar atau iris berubah warna (jarang)
Kalau anak masih bayi, susah kan nunjukin kalau penglihatannya bermasalah. Makanya, seringkali orang tua baru sadar saat gejala sudah jelas banget. Padahal, kalau dicek rutin sejak lahir, bisa lebih cepat tertangani.
Kenapa Penanganan Retinoblastoma di Indonesia Masih Penuh Tantangan?
Di negara maju, retinoblastoma hampir 100% bisa disembuhkan tanpa harus angkat mata. Tapi di Indonesia, fokus utamanya masih “agar anak tidak meninggal”. Kenapa begitu?
Pertama, deteksi dini masih rendah. Banyak kasus sudah stadium lanjut saat pertama kali ke dokter. Tumor sudah besar, bahkan menyebar ke luar mata.
Kedua, banyak orang tua menolak pengangkatan mata yang direkomendasikan dokter. Mereka cari pengobatan alternatif dulu, seperti ke dukun atau obat tradisional. Akhirnya tumor makin ganas, biaya malah membengkak, dan prognosis memburuk.
Ketiga, akses pengobatan canggih belum merata. Prosedur seperti suntikan kemo langsung ke mata (intravitreal) baru ada di Jakarta dan beberapa kota besar. Di luar Jawa atau Indonesia timur, susah banget nemu spesialis mata anak yang kompeten.
Angka kematiannya pun masih tinggi dibanding negara tetangga di Asia. Padahal, kalau sistem rujukan dan kesadaran lebih baik, ini bisa ditekan drastis.
Pengobatan Retinoblastoma yang Tersedia di Indonesia Saat Ini
Pengobatan retinoblastoma tergantung stadium dan ukuran tumor. Tujuannya dua: bunuh kanker dan selamatkan mata sebisa mungkin.
Beberapa pilihan yang sudah ada:
- Terapi laser — Untuk tumor kecil, laser memutus aliran darah ke tumor.
- Krioterapi — Bekukan sel kanker pakai nitrogen cair.
- Kemoterapi — Bisa sistemik (lewat infus), intra-arterial (langsung ke arteri mata), atau intravitreal (suntikan ke bola mata). Yang terakhir ini terobosan bagus buat jaga penglihatan.
- Radioterapi — Jarang dipakai karena risiko efek samping.
- Enukleasi — Pengangkatan bola mata, kalau tumor sudah terlalu besar. Setelah itu dipasang protesa supaya tampilan tetap normal.
Di RSCM atau JEC Jakarta, sudah banyak yang pakai teknik intra-arterial dan intravitreal. Hasilnya, semakin banyak anak yang mata dan penglihatannya terselamatkan.
Kalau satu mata diangkat, anak tetap bisa hidup normal kok. Banyak cerita anak yang tetap ceria dan aktif setelah pakai mata buatan.
Kemajuan dan Harapan untuk Retinoblastoma di Indonesia
Kabar baiknya, penanganan retinoblastoma di Indonesia sedang naik level. Ada rencana bikin 4-6 Retinoblastoma Center di berbagai wilayah, supaya tidak semua pasien harus ke Jakarta.
Kolaborasi dengan ahli luar negeri juga lagi jalan, termasuk terapi berbasis genomic yang lebih presisi. Artinya, pengobatan disesuaikan dengan karakter tumor masing-masing anak.
Yayasan seperti Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) dan Yayasan Kanker Indonesia juga aktif kampanye deteksi dini. Mereka bahkan ada program skrining gratis di beberapa tempat.
Dengan semua ini, harapannya angka kesembuhan bisa mendekati negara maju. Yang penting, orang tua jangan ragu bawa anak ke dokter mata kalau ada gejala mencurigakan.
Tips Deteksi Dini Retinoblastoma untuk Orang Tua
Mau anak terhindar dari yang parah-parah? Lakukan ini:
- Foto anak pakai flash rutin, cek pupilnya.
- Periksa mata bayi baru lahir di dokter atau bidan.
- Rutin cek mata saat imunisasi atau posyandu.
- Kalau ada riwayat kanker mata di keluarga, konsultasi genetik sejak hamil.
Ingat, retinoblastoma bukan vonis mati. Kalau cepat tangani, anak bisa tumbuh normal seperti teman-temannya.
Retinoblastoma di Indonesia memang masih punya jalan panjang, tapi semakin hari semakin banyak anak yang sembuh total. Yang terpenting adalah kesadaran kita semua sebagai orang tua. Jangan abaikan tanda kecil di mata anak, karena itu bisa selamatkan nyawa dan masa depannya.
Kalau kamu lagi curiga sama mata anakmu, langsung konsultasi ke dokter mata anak ya. Semoga artikel ini membantu!
